DUNIA DONGENG

Selasa, 10 Mei 2016

AGAR SUKA MATEMATIKA

Rumus? Angka? Hitung menghitung? Pusing 7 keliling? Itu wajar jika kalian mempelajari Matematika. Lha wong saya sendiri juga pernah mengalaminya betapa sulit mempelajari Matematika apalagi saat pelajaran itu ada di kelas setiap hari senin,jumat. Saya lebih baik tidak sekolah ketimbang nanti disuruh maju ke depan kelas lalu disuruh mengerjakan soal. Sungguh membetekan saat itu menjadi siswa! Cekidot!!!! Namun hal itu kelama-lamaan hal itu tidak baik saya lakukan. Hingga akhirnya saya pun menyadari kekeliruan itu. Bahwa jika hal itu saya akan lakukan tidak ada gunanya saya bersekolah. Dan sadarlah saya atas kekeliruan itu. Saya akhirnya bisa menikmati pelajaran Matematika itu. Saya lakukan itu dengan memaksakan diri saya untuk bisa mencintai Matematika. Tentunya bukan hanya diri saya saja tapi juga atas pertolongan dari teman-teman sekelas saat saya masih berstatus siswa saat itu. Mereka sangat membantu saya pula untuk mencintai Matematika sampai saat lulus sekolah. Sungguh sangat mengharukan bagi saya saat-saat itu. Tapi, tidak semudah itu saya langsung untuk mencintai Matematika apalagi saat di bangku putih biru. Tapi saya perlu adaptasi dan juga mengetahui seluk beluk mencintai Matematika dengan trik dan tips untuk memudahkan saya mencintai Matematika. Mau tahu trik dan tips yang saya lakukan? Cekidot! Ini tip dan triknya. Semoga berguna dan bermanfaat. 1. Tulislah rumus Matematika yang paling dasar yang kita ketahui. Ini yang saya lakukan jika pelajaran Matematika berlangsung, lebih tepatnya saat guru Matematika menerangkan di depan kelas. Saya langsung menuliskannya di secarik kertas atau di buku kecil. Saya tulis rumus Matematika yang paling mudah yang saya tulis. Itu saya lakukan agar tidak repot-dan mudah diingat. 2. Jangan dihafal tapi dipraktekan! Lagi-lagi itu yang saya ketahui! Karena selama ini yang membuat saya keliru adalah cara saya mempelajari Matematika. Yakni, dengan cara menghafal, padahal hal itu tidaklah selamanya membantu. Tapi malah sebaliknya terkadang akan mudah lupa ketimbang dipraktekan. Maka jika ada pelajaran Matematikan saya langsung mempraktekannya di rumah setelah saya mencatat rumus Matematika setelah saya mengetahui dari guru Matematika saat menerangkan di depan kelas. 3. Jangan bilang kata SUSAH sebelum mengetahuinya lebih dahulu dasar rumusnya! Ini lagi-lagi yang membuat semua sebagai seorang siswa khususnya-dan pada umumnya saya. Sebelum saya mencintai dan menyukai Matematika saya sudah menjudge-nya bahwa Matematika itu pelajaran yang paling susah sedunia! Hingga akhirnya saya beberapa kali bolos alias madol sekolah saat pelajaran Matematika tiba. Namun itu tidak lama saya lakukan. Karena itu akan membuat saya akan tidak suka selamanya dan menganggap Matematika itu susah jika belum dikeahui dasar rumusnya. Hingga akhirnya saya mencoba untuk mencintai dan menyukainya walau awalnya saya pertama kali tidak menerimnya. Tapi lama-kelamaan saya pun akhirnya malah terpicut juga oleh Matematika keika saya mengetahui dasarnya. Ternyata Matematika tidak sesulit dan sesusah pemikaran saya saat menjadi siswa. 4. Jangan malu bertanya jika memang tidak tahu! Malu bertanya tidak akan tahu selamanya. Itu yang membuat saya bergerak untuk selalu bertanya jika saya tidak tahu rumus apa yang sedang diterangkan oleh guru Matematika di kelas. Walau saya pertama kali lagi-lagi enggan dan sungkan untuk menanyakan hal remeh saat itu yang saya kira. Namun saya rasakan ternyata itu bukan hal remeh namun itu harus saya tanyakan. Karena jika tidak dilakukan saya tidak tahu selamanya. Ya walau kenyataannya saya memang orangnya malas bertanya dan cuek hingga saya membuang sikap saya itu. Hingga saya memberanikan diri beranya kepada guru Matematikan saat pelajarannya berlangsung.Akhirnya sedikit demi sedikit saya akhiranya bisa saya ketahui. 5. Buatlah belajar kelompok kepada yang lebih pintar Matematika Gengsi. Begitu ketika saya mengikuti belajar kelompok oleh teman-teman sekelas saat diadakan kelompok belajar khususnya pelajaran Matematika. Apalagi jika ada Pekerjaan Rumah (PR) yang mengharuskan harus berkelompok. Mau tidak mau saya pun harus memaruhi ketimbang saya tidak dapat nilai pelajaran itu Namun keika saya lakukan beberapa kesempatan ternyata teman-teman saya saat itu ternyata peduli sesama temannya khususnya saya saat itu. Terlebih yang tidak bisa atau kurang paham dengan Matematika khususnya rumusnya untuk memecahkan soal secara logika. Saya pun lama kelama-lamaan merasakan hal itu. Ternyata dengan adanya belajar kelompok selain bisa menjalin kerja sama juga menjalin persaudaraan sesama teman sekelas. Sungguh menakjubkan! Itu yang saya rasakan saat-saat menjadi siswa. Betapa menyenangkan! Nah Kawan masihkah kita tidak menyukai dan berkata Matematika itu susah? Walau saya dulu pernah merasakan hal itu tetapi sekarang saya tidak merasakan hal itu kembali. Karena apa? Karena setelah saya tahu tip dan triknya untuk mengetahui serta bagaimana menaklukan pelajaran matematika di sekolah tanpa pusing 7 keliling tapi dengan mudah dan menyenangkan akhirnya saya begitu mendalami Matematika. Bagiamana dengan kamu, Kawan? Mau mengikuti tip dan trik saya ini. Atau, Kawan punya tip dan triks sendiri? Slakan saja! Asal Kawan bisa menyukai dan senang dengan mata pelajaran ini. Semoga.^^ FIGHTING!!!!!!!!!!!!!!!!!!! - See more at: http://catatananaksekolah13.blogspot.co.id/2013/02/tips-mencintai-matematika.html#sthash.eilGXb7F.dpuf

Senin, 09 Mei 2016

ATASI ANAK SUKA BOHONG

Cara Menangani Anak yang Suka Berbohong Semua orang berbohong – tetapi itu tidak menjadikannya benar. Kita ingin mengajarkan anak-anak kita untuk menjadi jujur. Memahami mengapa anak-anak kita berbohong dapat menjadi kunci untuk membantu mereka mengatasinya.
Semua orang berbohong. Saya pernah memberitahu suami saya, dengan tatapan penuh kejujuran, bahwa tidak, saya tidak mendapat smsnya yang meminta saya mengerjakan sesuatu untuknya. Dan dia juga pernah memberitahu saya bahwa tentu saja celana jeans saya tidak membuat saya terlihat gemuk. Dari orang yang paling taqwa sampai orang yang paling bejat, kita semua berbohong. Bahkan StatisticBrain.com mengatakan bahwa 60 persen orang-orang berbohong setidaknya sekali dalam percakapan 10 menit. Kita berbohong untuk menyelamatkan diri, untuk menghindari konfrontasi, untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, dan terkadang hanya untuk bersikap baik. Jadi, tidak mengagetkan jika anak-anak kita juga berbohong. Lagi pula, mereka belajar itu dari kita. Tentu saja, itu tidak berarti berbohong dapat diterima. Sebagai orang tua, kita ingin mengajarkan anak-anak kita untuk menjadi jujur. Bagaimana kita dapat melakukannya padahal berbohong tampak tidak dapat dihindarkan? Hal pertama yang harus dilakukan adalah memperhatikan diri sendiri. Perhatikan ketika Anda tergoda untuk berbohong. Berusahalah untuk menemukan keberanian moral untuk menjadi lebih jujur. Jika Anda kedapatan berbohong di depan anak Anda, minta maaf. Biarkan dia tahu mengapa Anda berbohong, dan beritahu dia bahwa itu adalah sesuatu yang sedang Anda berusaha untuk hilangkan. Selanjutnya, memahami mengapa anak Anda berbohong dapat membantu Anda tahu cara menanganinya. Ada beberapa jenis berbohong. Si pengkhayal Si pengkhayal punya imajinasi nyata dan punya bakat untuk menjadi pendongeng hebat. Dia terkadang berpikir ceritanya akan menjadi sedikit lebih baik jika dia membuatnya seolah-olah nyata. Tentu saja, Anda tidak ingin mematikan imajinasinya. Jadilah antusias tentang cerita-ceritanya, dan berikan pujian kepadanya atas imajinasinya dan kemampuan mendongengnya yang luar biasa. Dengan lembut beritahu dia bahwa Anda tahu ada yang dia lebih-lebihkan, dan itu tidak apa-apa. Biarkan dia tahu bahwa dia punya bakat hebat dalam menceritakan “cerita imajinasi” dan doronglah dia untuk terus berbagi dengan Anda. Dia mungkin akan merasa agak malu karena kedapatan berbohong, tetapi jangan mempermalukannya. Si penghindar Si penghindar benci konfrontasi – terutama jika itu berarti dia mungkin akan kena masalah. Anak-anak akan sering berbohong untuk menghindari hukuman. Meskipun itu hal yang normal, kita ingin anak-anak kita mampu bertanggung jawab atas tindakan mereka. Perhatikan metode pengasuhan Anda. Apakah Anda sangat bergantung pada hukuman fisik atau berteriak untuk memberitahu anak-anak bahwa Anda sedang marah? Jika anak-anak benar-benar takut pada Anda, maka akan sulit bagi mereka untuk mengatasi kebohongan seperti ini. Namun, jika Anda lebih berfokus pada disiplin berbasis konsekuensi, maka Anda dapat mengajarkan anak-anak bahwa mereka mampu mengatasi konsekuensi dari perilaku mereka. Berikan anak Anda konsekuensi atas kesalahannya, dan konsekuensi lain atas kebohongannya. Si tak mau kalah Anda tahu siapa dia. Setiap kali ada yang punya cerita bagus, dia harus punya cerita yang lebih baik. Ketika suami saya masih remaja, dia punya teman yang selalu harus mengalahkan cerita orang lain. Suatu hari, suami saya memberitahu teman-temannya, “Perhatikan, saya akan bercerita tentang pengalaman memancing yang lucu, dan dia akan berkata ‘Oh ya? Itu belum apa-apa.’” Tentu saja, setelah suami saya mengakhiri ceritanya, temannya berkata, seolah-olah sesuai dengan aba-aba, “Oh ya? Itu belum apa-apa.” Dia tidak tahu mengapa semua temannya menertawakannya. Melebih-lebihkan cerita untuk mengesankan teman-teman biasanya tidak berakhir baik. Tidak hanya itu tidak jujur, tetapi itu dapat membuat anak Anda semakin tidak disukai. Untuk membantu anak Anda mengatasi kebohongan seperti ini, bangunlah rasa percaya dirinya dengan berfokus pada hal-hal yang dapat dia lakukan dengan baik. Pastikan untuk tidak membanding-bandingkannya dengan orang lain. Ajarkan dia untuk berbahagia atas prestasi orang lain. Tunjukkan kepadanya bahwa tidak apa-apa jika ada teman yang lebih baik daripada dia dalam beberapa hal karena dia akan menjadi lebih baik daripada teman-temannya dalam hal-hal lain. Si tukang pura-pura Si tukang pura-pura adalah ahli dalam berpura-pura sakit perut atau flu. Gejalanya biasanya timbul sesaat sebelum ujian sekolah atau peristiwa besar lainnya yang membuatnya takut. Pertama, cari tahu apakah ada alasan nyata untuk rasa takutnya. Apakah dia merasa terintimidasi? Anda mungkin perlu bertemu dengan gurunya untuk membahas cara-cara menghentikan intimidasi dan membantu anak Anda membela dirinya sendiri. Anda juga dapat meminta bantuan dari teman-teman anak Anda. Jika anak Anda tidak dalam bahaya nyata, ajarkan dia untuk mengatasi rasa takutnya. Berikan dia kesempatan untuk membangun rasa percaya diri dan mandiri di rumah. Berfokuslah pada hal-hal positif dari peristiwa yang dia takuti. Ingatkan dia tentang keberhasilannya di masa lalu ketika mengatasi rasa takut, dan betapa bangganya dia ketika dia mencapai keberhasilan itu. Biarkan dia tahu bahwa Anda percaya padanya dan akan selalu ada untuknya. Perhatikan juga diri dan perasaan Anda sendiri. Jika Anda mengkhawatirkan anak Anda, Anda mungkin secara tidak sadar menyampaikan kecemasan itu kepadanya. Anak Anda lebih kuat dan lebih tangguh daripada yang Anda pikirkan. Si pemuas Si pemuas ingin membuat semua orang bahagia dan tidak ingin mengecewakan Anda. Ketika membesarkan seorang pemuas, hindari menyebutnya “baik” atau “buruk” berdasarkan perilakunya. Biarkan anak Anda membuat kesalahan. Beritahu dia bahwa semua orang melakukan kesalahan, dan itu adalah cara penting untuk belajar. Biarkan dia tahu bahwa Anda akan selalu mengasihinya tanpa syarat, dan bantulah dia belajar dari kesalahannya. Jadi, mungkin kita semua berbohong. Tetapi saya ingin berpikir bahwa kita semua sedang berusaha mengatasinya. Memahami anak Anda dan alasan mengapa dia berbohong akan membantu Anda mengatasinya bersama-sama.

MENDDIK ANAK BELAJAR TANPA DISURUH

Cara sederhana agar anak rajin belajar agar-anak-rajin-belajarBanyak papa dan mama mengeluh dan bingung mencari cara agar anak rajin belajar. Rajin belajar? Coba anda ingat-ingat ketika anda masih kecil, apakah anda sendiri juga rajin belajar? :) Apakah anda juga langsung menurut begitu disuruh untuk belajar oleh papa dan mama?
Pertanyaan diatas merupakan satu input balik agar kita sebagai papa dan mama tidak menekan terlalu keras pada anak untuk rajin belajar. Ingin anak rajin belajar itu baik, tapi pahamilah dan sadarilah juga kalau anak anda juga seperti anda waktu kecil dulu. Nah, bagaimana cara sederhana agar anak rajin belajar? Mulai segala sesuatu dengan pikiran Dalam sebuah seminar, pembicara mengatakan kalau sebuah karakter atau sifat, misalnya sifat yang rajin belajar, itu tidak otomatis terbentuk. Semua anak dilahirkan sama, dari bayi, belajar berdiri, belajar berjalan, belajar berbicara, belajar membaca dan akhirnya mereka sekolah. Semua sama. Yang berbeda adalah bagaimana mereka menghabiskan waktu 24 jam sehari itu. Dimulai dari pikiran, dilakukan setiap hari sehingga menjadi kebiasaan dan kebiasaan itu menjadi karakter seseorang. Anak kami suka melihat princess, dia ingin menjadi seperti princess. Papa dan mama memberikan masukan tiap saat, “Princess itu pintar membaca, pintar menulis, kalau ditanya jawabnya cepat dan keras”. Satukan keinginan anak anda dan keinginan anda, ucapkan sesering mungkin pada anak anda karena disitu pikiran mereka dibentuk. Pelajaran dari les matematika Kami mendapatkan konfirmasi tentang cara agar anak rajin belajar ini dari sebuah les matematika anak kami yang setiap hari memberi PR. Setelah bertanya dan konsultasi dengan guru pembimbing les tersebut, tujuan PR itu bukanlah untuk menjadikan anak itu pintar dan hafal, tapi lebih mengarahkan pada kebiasaan tiap hari mengerjakan PR. Kebiasaan tiap hari mengerjakan PR itu yang kami ingat. Memang tidak mudah pada awalnya. Anak kami juga mengeluh capek, ngantuk dsb kalau disuruh kerjain PR, namun sebagai papa mama teruslah mendorongnya. Kami memberikan point, “Oh, kamu sudah pintar 1 kali ya” bila dia mengerjakan PR hari itu… “Bila pintar sampai 10 kali, nanti papa dan mama belikan boneka”, beri penghargaan. Setelah terbiasa dengan 1 PR matematika, kami menambahkan PR membaca tiap hari, beri point juga dan beri reward juga. Sekarang PR anak kami menjadi matematika, membaca, menulis dan itu dilakukan setiap hari. Perlu kesabaran dari papa dan mama dalam membimbing anak melewati masa-masa bosan dan masa-masa jenuh. Beri sedikit PR bila anak mengalami masa itu, bukan tidak ada PR, tapi sedikit PR.

HINDARI KATA-KATA INI KALAU MARAH PADA ANAK

Anak Ketika Marah Anak-anak butuh waktu untuk bisa memahami segala sesuatu, Anda pun dulu waktu seusia mereka pasti juga melakukan kenakalan yang sama.
Orang tua sering kali hilang kesabaran ketika menghadapi kenakalan anak, seperti rewel, berkelahi, mencuri, tidak patuh, dan sebagainya. Berbagai macam cara mulai dari bentakan, ancaman, hingga pemukulan secara fisik kerap dilakukan oleh orang tua supaya dapat meredam kenakalan mereka. Pertanyaannya, menurut Anda apakah cara-cara tersebut efektif? Mungkin ada sebagian dari Anda yang setuju dan sebagian lain mungkin menjawab tidak setuju. Menjadi orang tua sangat dibutuhkan kesabaran ekstra, adalah memang tanggung jawab Anda untuk bisa mengendalikan mereka, akan tetapi bukan dengan cara kekerasan fisik dan kata-kata kasar. Anak-anak butuh waktu untuk bisa memahami segala sesuatu, Anda pun dulu waktu seusia mereka pasti juga melakukan kenakalan yang sama. Lepas dari betapa suram masa kecil Anda dulu atau betapa tegas orang tua Anda telah mendidik Anda selama ini, ketahuilah bahwa anak-anak Anda saat ini adalah pribadi yang berbeda. Anda boleh menerapkan pola pengasuhan yang sama seperti yang Anda terima dari orang tua Anda dulu atau Anda ingin menerapkan pola pengasuhan yang baru, itu semua terserah kepada Anda. Oleh karena itu, apapun alasannya, bila Anda terpaksa harus marah untuk menunjukkan ketegasan Anda kepada anak-anak Anda, sebisa mungkin kendalikan emosi Anda dan hindarilah mengucapkan kata-kata berikut ini kepada mereka: 1. "Dasar berengsek!" Kalimat kasar yang sering diucapkan oleh orang dewasa yang sedang marah ini tidak patut ditujukan kepada seorang anak. Ketika seorang anak menerima kalimat ini dari orang tuanya, maka hal itu akan tertanam dalam benak mereka dan mereka akan belajar untuk semakin tidak menghormati Anda. Lebih parahnya lagi mereka akan meniru dan mengucapkan hal yang sama kepada orang lain. 2. "Ini semua salahmu!" Anak-anak sangat membutuhkan arahan dan bimbingan dari kedua orang tuanya. Ketika mereka berbuat kesalahan itu adalah hal yang wajar, sebagai orang tuanya Anda tidak boleh menghancurkan rasa ingin tahunya. Anda juga tidak boleh menghancurkan rasa percaya dirinya dengan mengatakan, "Ini semua karena salahmu atau semua ini terjadi gara-gara kamu." 3. "Dasar goblok!" Seorang anak yang sering mendapatkan teguran semacam ini dari orang tuanya akan menjadi minder dan tidak memiliki percaya diri yang baik. Dia akan merasa bahwa dirinya memang tidak becus dalam mengerjakan sesuatu. Bila tetap diteruskan, tanpa Anda sadari Anda sendirilah yang telah menghancurkan masa depannya. 4. "Dasar anak setan!" Emosi orang dewasa memang terkadang bisa tak terkontrol, berbagai macam kata-kata kasar, makian dan umpatan sangat mudah keluar dari mulut Anda. Ketika Anda sedang marah kepada anak Anda dan betul-betul jengkel karena tingkah lakunya yang tidak bisa diatur jangan pernah mengatakan kepadanya bahwa dia anak setan. Bila Anda mengharapkan rasa hormat darinya dan ingin supaya anak Anda mudah untuk diatur, maka lebih baik Anda melakukan introspeksi diri. Terkadang anak-anak yang berperilaku demikian sebenarnya hanya menunjukkan rasa protes kepada Anda. 5. "Dasar kurang ajar!" Kalimat ini hanya pantas ditujukan kepada seseorang yang telah melakukan perbuatan jahat seperti mencuri, membunuh, atau memperkosa, bukan untuk anak-anak yang sesungguhnya belum mampu memahami apa yang telah dia lakukan itu benar atau salah. 6. "Kami tidak pernah mengharapkanmu." Bila Anda sangat mengasihi anak-anak Anda, semarah apapun Anda jangan pernah sekalipun mengucapkan kalimat ini kepada mereka. Kalimat ini bagaikan sebuah kutukan kepada seorang anak. Sekali saja kalimat ini keluar dari mulut Anda, maka Anda tidak akan pernah bisa menyembuhkan luka di hatinya sampai kapanpun dan Anda juga tidak akan pernah bisa mendapatkan rasa hormat darinya. Anda marah dan jengkel menghadapi perilaku nakal anak adalah hal yang wajar, Anda bukanlah seorang malaikat, Anda hanyalah manusia biasa yang tidak luput dari berbagai macam kesalahan. Tetapi sebagai orang tua, Anda dituntut untuk mampu mengendalikan emosi Anda. Kedewasaan Anda dalam hal ini sedang diuji. Cara Anda mendidik mereka menentukan kualitas Anda sebagai orang tuanya, dan kesalahan Anda dalam mendidik merekalah yang justru dapat menghancurkan masa depannya Agung Candra Setiawan

Anak "Bandel" jadi PENURUT

Mengembangkan Empati Si Kecil Sedari Dini Empati adalah hal yang tak kalah penting daripada prestasi yang harus dimiliki anak-anak kita sedari dini. Memiliki empati akan membantu anak-anak kita dalam interaksi mereka dengan sesama dan lingkungAN
Kecenderungan dalam masyarakat sekarang para orang tua lebih menekankan pentingnya prestasi dan lupa atau sengaja melupakan untuk mengajarkan empati pada buah hati. Padahal memiliki empati tak kalah pentingnya bagi seorang anak dibandingkan dengan memiliki prestasi. Karena kemampuan anak mengelola emosi dan menjalin hubungan dengan sesama serta lingkungan sekitar dia sangat dipengaruhi oleh pengembangan empatinya. Kemampuan kognitif untuk memahami konsep empati sebenarnya baru dipahami saat seorang anak berusia 8 atau 9 tahun. Akan tetapi anak berusia lebih muda dari itu pun bisa menunjukan sikap empati terhadap orang lain jikalau dibiasakan sedari dini. Hal pertama yang perlu dilakukan oleh orang tua dalam mengembangkan empati pada diri seorang anak adalah dengan membantu anak tersebut mengenali emosi. Bantulah si kecil untuk mengenali apa yang dia atau orang lain rasakan. Contohnya ketika ada seorang temannya menangis, Anda bisa menjelaskan bahwa perasaan yang si teman rasakan itu adalah sedih, lalu doronglah si kecil untuk menghibur temannya dengan cara mengajak bermain bersama. Sebaliknya ketika ada hal yang menyenangkan dan si kecil terlihat gembira, Anda bisa memberitahukan dia bahwa apa yang dia rasakan itu adalah perasaan bahagia. Mengenalkan emosi baik yang positif maupun negatif membantu si kecil untuk memahami apa yang dia rasakan dan apa yang orang lain rasakan. Itu akan membantu mengembangkan kemampuannya berempati terhadap keadaan orang lain. Hal yang perlu diingat adalah bahwa berikanlah penjelasan yang sederhana sesuai dengan usia si kecil. Dan meskipun anda sedang mengenalkannya dengan emosi negatif seperti bersedih atau marah, tetaplah akhiri dengan hal yang positif. Seperti contoh di awal tadi bagaimana kita bisa mendorong si kecil untuk menghibur temannya yang sedang bersedih. Untuk anak yang masih balita bisa juga kita mengenalkan emosi dengan permainan ekspresi. Tempelkan gambar-gambar emosi seperti sedih, senang, tertawa, menangis, terkejut, marah dsb, di papan tulis atau di pintu kulkas. Secara bertahap kita bisa menempelkan gambar-gambar emosi yang lebih kompleks seperti cemburu, grogi dan sebagainya. Doronglah buah hati kita untuk membagi apa yang dia rasakan. Hal ini perlu dibiasakan. Mulailah dengan memberi contoh dengan membagikan apa yang kita rasakan kepada si kecil. Semisal ketika kita senang karena si kecil bisa bangun pagi dengan mudah. Atau sebaliknya ketika kita kesal karena si kecil yang berteriak-teriak meminta sesuatu yang kita tidak izinkan misalnya, jelaskan bahwa kita kesal dengan apa yang dia lakukan, dengan catatan kita tidak melakukan itu dengan emosi. Bisa juga kita memberi pancingan dengan bertanya kepada si anak sehingga dia akan terbiasa untuk bercerita tentang apa yang dia rasakan. Dan harap selalu diingat untuk mendengarkan dengan sungguh-sungguh tanpa menyela ketika si kecil berbagi apa yang dia rasakan. Berikan dia kebebasan untuk menyampaikan. Baru setelah dia selesai bercerita kita bisa menanggapi. Itu akan membuatnya merasa dihargai dan didengarkan. Dan ini juga cara yang efektif untuk mengetahui dan mengajarkan kehidupan sosial kepada anak kita. Kita bisa mengetahui bagaimana anak kita berinteraksi dengan lingkungannya. Setelah anak bercerita tentang apa yang dia temui atau apa yang dia alami kita bisa mengarahkannya ke diskusi sederhana tentang bagaimana dia harus bersikap dengan teman atau orang di sekitarnya dengan cara yang baik dan saling menghormati. Hal lain yang bisa membantu mengembangkan empati si kecil adalah mengajarkannya untuk memperhatikan perilaku terutama perilaku yang baik yang terjadi di sekelilingnya. Sebagai contoh ketika ada teman dia yang melakukan hal yang baik kita bisa mengatakan, "Andi tadi baik sekali ya sudah menemani Lukas menunggu jemputan". Dengan menunjukkan perilaku positif orang lain kita mendorong si kecil untuk memahami bahwa tindakan seseorang bisa mempengaruhi emosi dan memberi kesan pada diri orang lain. Dan itu akan mendorong si kecil untuk melakukan hal serupa. Berperilaku baik di depan anak adalah cara paling efektif untuk mengajarkan anak tentang kepedulian terhadap orang lain. Bahkan hal sederhana seperti mengucapkan kata maaf atau terima kasih juga paling baik diajarkan dengan teladan. Ada seorang anak kenalan saya yang susah sekali berbagi dengan temannya. Usut punya usut ternyata sedari dia balita ibunya sudah mengatur agar dia tidak berbagi mainan dengan anak lain. Setiap kali ada anak lain bermain ke rumahnya, si ibu hanya akan mengeluarkan satu atau dua buah mainan saja dengan alasan takut mainannya rusak atau hilang. Alhasil si anak tumbuh menjadi susah berbagi. Sebaliknya ada juga anak yang tidak canggung membagi makanannya dengan anak lain. Dan ternyata itu juga dimulai dari orang tua yang membiasakan si anak untuk berbagi dengan temannya. Jika ingin anak kita memiliki empati terhadap sesama dan lingkungan, haruslah dimulai dari orang tuanya. Mustahil untuk mengajarkan anak tentang cinta pada lingkungan jika orang tuanya saja masih suka membuang sampah sembarangan.

Anak "Bandel" jadi PENURUT

Cara mendidik anak nakal memang tidak mudah dan memerlukan sedikit usaha ekstra jika dibandingkan dengan mendidik anak yang memiliki kepribadian yang biasa- biasa saja bahkan lebih cenderung mudah diatur. Dalam penerapannya, banyak sekali orang tua yang tidak mampu sabar dalam mengendalikan anak yang nakal dan mereka cenderung melakukan kekerasan kepada anak sebagai salah satu solusi terbaik dalam mendisiplinkan anak yang nakal. Sebagian besar orang tua mungkin menganggap bahwa hal ini merupakan hal yang benar, namun apakah demikian? Benarkah mendidik anak yang nakal dengan jalan kekerasan akan membuat mereka menjadi lebih disiplin? Jawabannya tentu tidak. Mendisiplinkan anak yang nakal dengan jalan kekerasan justru akan membuat anak semakin tidak takut dengan siapapun, bahkan cenderung menjadi bandel. Dalam hal ini, orang tua harus menerapkan cara yang berbeda dalam menghadapi anak yang nakal namun bukan dengan jalan melakukan kekerasan seperti main pukul terhadap anak, karena hal tersebut akan berdampak sangat buruk pada pertumbuhan anak. Untuk mendisiplinkan anak yang nakal. Terdapat beberapa cara yang perlu diterapkan agar anak mnjadi disiplin dan sembuh dari kenakalannya. Setiap orang tua tentu menginginkan anaknya yang nakal menjadi disiplin, bukan? Hal ini karena memiliki anak yang nakal terkadang membuat orang tua depresi karena merasa salah dalam mendidik anak. cara mendidik anak nakal agar nurutDisadari atau tidak, penyebab anak menjadi penurut atau bahkan menjadi nakal memang sedikit banyak terjadi karena campur tangan orang tua dalam menerapkan pola asuh kepada anak. Untuk itu, bagi para rang tua khususnya para ibu yang memiliki anak yang nakal, hendaknya kita harus siap dan lebih sabar dalam mengembalikan kepribadian anak menjadi pribadi yang disiplin yang taat. Lantas bagaimanakah cara mendidik anak yang nakal agar mereka mamp menjadi anak yang patuh dan disiplin sehingga dapat membanggakan kedua orang tuanya? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kali ini kita akan membahas mengenai seputar anak yang nakal, penyebab anak menjadi nakal serta bagaimana cara mengatasi anak yang nakal sehingga mereka dapat kembali menjadi anak yang disiplin dan patuh terhadap kedua orang tuanya. Sebelum mengetahui cara mendidik anak yang nakal, pertama kali yang harus diketahui oleh orang tua adalah dengan mencari tahu apa yang menjadi penyebab sang anak menjaid nakal. Terdapat beberapa sebab mengenai anak yang tumbuh menjadi anak yang nakal pada usia- usia tertentu yang pada awalnya mereka sebenarnya adalah anak yang baik. Di antara sebab- sebab tersebut antara lain adalah sebagai berikut: Ketika masih bayi atau berusia sekitar di bawah lima tahun, anak sudah dibiasakan oleh orang tua dengan menuruti semua kemauan anak. Hal ini sering terjadi terutama bagi orang tua yang tidak tega melihat anakanya menangis sehingga mereka lebih memilih untuk menuruti apa yang diinginkan sang anak. Dengan memanjakan anak seperti ini, secara tidak langsung orang tua tengah mendidik anak menjadi anak yang semua keinginannya harus dipenuhi dan jika tidak, mereka akan mengancam kedua orang tuanya dengan mengeluarkan jurus andalan, yakni menangis. Hal inilah yang membuat sang anak tumbuh menjadi pribadi yang nakal ketika mereka memasuki usia pra sekolah. Mereka akan senang merengek dan tak jarang dari mereka yang berteriak- teriak meminta dibelikan sesuatu tanpa mempedulikan kondisi orang tua saat itu. Yang terpenting adalah kebutuhannya, apapun keadaannya. Dengan membiasakan anak dimanja sejak kecil, akan menumbuhkan pribadi yang egois. Orang tua tidak menegur sang anak bahkan cenderung mentertawai mereka pada saat mereka mengucapkan kata- kata yang tidak patut. Hal ini tak jarang pula terjadi pada masyarakat kita terutama dari kalangan orang tua yang kurang berpendidikan. Mereka cnderung membiarkan dan mentertawakan anak mereka ketika anak- anak mereka berkata yang tidak sopan dan bahkan berkata- kata kotor. Dengan sikap orang tua yang seperti itu, maka anak akan menganggap bahwa apa yang ia lakukan bukanlah suatu kesalahan sehingga anak akan cenderung mengulangi perkataan- perkataan tersebut sehingga akan terbawa sampai ia dewasa. Melakukan pembiaran terhadap fenomena ini akan membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang arogan dan tidak memiliki tata krama. Kurangnya penerapan pelajaran ruhani kepada sang anak. Sebagai orang tua, tentu kita semua tahu bahwa agama merupakan satu- satunya pegangan hidup yang mampu menuntun seseorang untuk menuju ke arah yang lebih baik. Hal ini perlu ditanamkan kepada anak sejak dini. Apabila anak tidak diperkenalkan mengenai agama semenjak ia masih kecil, maka ia akan tumbuh menjadi pribadi yang tak terkendali sehingg tak jarang dari mereka yang tumbuh menjadi anak yang nakal. Terlalu sering bertengkar di hadapan sang anak juga merupakan salah satu faktor utama anak tumbuh menjadi anak yang nakal. Kejadian ini sering dialami oleh orang tua yang memiliki kehidupan rumah tangga yang kurang harmonis dimanamereka terlalu sering brtengkar di hadapan sang anak sehingga sang anak berpikir bahwa keluarga mereka dipenuhi dengan kebencian- kebencian yang mengakibatkan sang anak menjadi berontak sebagai bentuk protes terhadap perilaku kedua orang tuanya. Apabila kita mengamati anak- anak di sekitar kita yang kedua orang tuanya memiliki kehidupan rumah tangga yang kurang harmonis, maka hal ini sering kita jumpai pada anak- anak mereka. Terlalu sering memberikan uang saku yang berlebihan kepada sang anak dan memfasilitasi mereka dengan hal- hal yang sesungguhnya tidak terlalu mereka butuhkan juga menjadi penyebab utama sang anak tumbuh menjadi pribadi yang nakal. Hal ini biasanya terjadi di kota- kota besar yang mana anak tumbuh di dalam sebuah keluarga yang kedua orang tuanya merupakan orang- orang yang fokus pada karir. Orang tuasemacam itu cenderung memfasilitasi anak- anaknya dengan segala kelebihan dan kecukupan dengan menganggap bahwa mereka tidak membutuhkan kasih sayang dengan terpenuhinya hal- hal tersebut. Padahal, membiasakan anak dengan barang mewah justru akan membuat mereka tumbuh menjadi pribadi yang kurang memiliki jiwa sosial dan tak jarang dari mereka akan tumbuh menjadi anak yang nakal dan tak terkendali. Kelima faktor di atas merupakan beberapa dari sekian banyak faktor yang dapat menyebabkan anak menjadi nakal. Setelah mengetahui beberapa faktor yang membuat anak tumbuh menjadi anak yang nakal, maka langkah orang tua selanjutnya adalah dengan mulai menghentikan kebiasaan yang menjadi penyebab anak menjadi nakal tersebut dengan menerapkan beberapa cara mendidik anak nakal. Perlu diingat bahwa mengembalikan anak nakal menjadi penurut tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, terlebih ketika mereka masih berusia anak- anak. Untuk itu, terdapat beberapa langkah yang harus ditempuh oleh orang tua dalam mengatasi anak- anak yang nakal. Cara pertama yang dapat ditempuh dalam mengatasi anak yang nakal adalah dengan menetapkan peraturan- peraturan yang tegas di rumah untuk membatasi perilaku anak yang dirasa sudah terlewat batas. Pada tahap pertama hal ini tentu akan sangat sulit diterima oleh sang anak, namun dengan menerapkan hukuman, maka mau tidak mau sang anak akan mematuhi peraturan- peraturan yang ditetapkan oleh kedua orang tua. Yang perlu menjadi catatan dalm hal ini adalah tegas bukan berarti keras, namun lebih ke arah bijaksana. Penerapan hukuman yang diberikan kepada anak bukan dalam bentuk kekerasan fisik, melainkan dalam bentuk lain seperti memotong uang jajan, mengurangi waktu bermain serta mencabut beberapa fasilitas yang biasanya digunakan oleh anak seperti menghentikan untuk memakai sepeda selama beberapa hari, dan lain- lain. Hal ini akan membuat anak berfikir untuk lebih memilih mematuhi peraturan daripada mendapatkan konsekuensi yang ia anggan merugikan dirinya sendiri. cara mendidik anak nakalCara kedua yang dapat diterapkan dalam memberikan treatment terhadap anak yang nakal adalah dengan membrikan anak suatu tanggung jawab dalam skala ringan yang sesuai dengan usia mereka. Sebagai contoh, apabila anak terbiasa dengan menaruh sepatu, tas dan tidak berganti seragam sepulang sekolah, maka anak akan kehilangan sepatunya atau tas atau barang kesayangannya yang lain. Dengan melatih anak untuk membiasakan diri menaruh peralatan sekolah pada tempatnya serta berganti baju sepulang sekolah, maka anak akan merasa bertanggung jawab penuh atas dirinya sendiri sehingga lama kelamaan anak akan cenderung menjadi anak yang bertanggung jawab. Dengan demikian, anak yang nakal terutama yang tidak disiplin akan berubah menjadi anak yang disiplin serta penuh tanggung jawab. Selain menetapkan peraturan- peraturan, tak ada salahnya jika orang tua menjadi pendengar yang baik bagi sang anak karena bisa jadi sang anak menjadi nakal akibat kurangnya perhatian dari orang tua atau anak tidak memiliki tempat untuk bercerita mengenai apa yang dialaminya sehari- hari. Luangkanlah waktu brsma sang anak untuk mendengarkan apa yang menjadi keluh kesah sang anak dan berikanlah solusi terbaik dari permasalahan yang sedang mereka hadapi. Dengan menjadi pendengar dan penasehat yang baik, hati anak yang semula kaku dan berontak akan luluh karena mereka akan berfikir bahwa ternyata masih ada orang yang mau mendengarkan perkataannya. Jangan selalu menjadi penasehat yang menuturi sang anak dengan petuah- petuah, namun jadilah pendengar yang baik pula bagi mereka. Dengan demikian, kenakalan mereka perlahan- lahan akan mereda. Dalam menarik anak yang nakal agar ia kembali menjadi anak yang baik, perlu diingat bahwa orang tua hendaknya tidak terlalu kasar kepada anak, namun tidak terlalu lembut kepada mereka. Bersikaplah di tengah- tengah, yakni tetap lembut namun juga tegas terhadap mereka apabila mereka melakukan kesalahan. Dengan demikian, sang anak akan menyadari kesalahan- kesalahan yang mereka lakukan dan mereka akan mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk bagi mereka. Sehingga, sang anak akan mampu mengendalikan diri mereka sendiri dan akan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki jiwa yang stabil dan berpendirian kuat. Dengan menerapkan beberapa solusi untuk menghentikan anak yang nakal dan mengubah mereka menjadi anak yang baik dan patuh, maka orang tua akan mendapatkan anak yang baik, berkepribadian serta memiliki tata krama yang terpuji dalam masyarakat. Untuk mewujudkan itu semua, hendaknya mulai sekarang orang tua perlu menerapkan beberapapenyebab dan cara mendidik anak nakal.

Cara Mendidik Anak Mandiri

Melatih dan mendidik anak Mandiri Mendidik dan membina kemandirian anak merupakan tugas dan kewajiban orang tua. Karena semua orang tua pasti berharap anaknya akan menjadi anak yang mandiri. Apa itu pengertian dari mandiri? Mandiri adalah suatu kondisi dimana seseorang dalam melakukan aktivitasnya tidak bergantung kepada orang lain. Tidak bergantung pada orang lain bukan berarti tidak membutuhkan orang lain. Maksudnya adalah dengan mandiri maka kegiatan tersebut masih mampu berjalan meskipun tanpa bantuan orang lain. Mandiri merupakan hal yang harus ada dalam diri seseorang. Karena tidak mungkin kita akan terus bergantung kepada orang lain. Oleh karena itu seiring dengan bertambahnya usia anak, maka si anak harus mulai diajarkan tentang kemandirian. Melatih kemandirian ini merupakan bekal yang baik untuk anak karena kita sebagai orang tua tidak mungkin akan terus bersama anak. Salah satu unsur penting dalam membangun dan mendidik kemandirian anak yaitu rasa percaya diri anak. Rasa percaya diri anak harus mulai ditumbuhkan sejak anak masih kecil. Rasa percaya diri inilah yang nantinya akan membuat anak membangun strategi dalam menghadapi persoalan hidupnya. Rasa percaya diri anak tidaklah muncul begitu saja. Akan tetapi rasa percaya diri anak merupakan rangkaian akumulasi dari berbagai aktivitas yang dilakukannya dengan semboyan "AKU BISA". Semboyan aku bisa ini tentunya berawal dari didikan orang tua dan stimulasi yang diberikan secara intensif. "AKU BISA" bisa saja berawal dari hal-hal yang sederhana. Untuk membangun rasa mandiri pada anak usia dini, ada beberapa kriteria yang bisa kita jadikan acuan untuk melatih percaya dirinya. Berikut ini adalah kegiatan yang hendaknya dilakukan agar anak terbiasa mandiri untuk anak usia 2 hingga 6 tahun 1. Melatih anak buang air kecil/besar (Toilet Trainning) 2. Memberikan tugas kepada anak untuk menjaga dan merawat barang-barang miliknya. 3. Mengajari anak untuk mandi dan membersihkan dirinya sendiri 4. Mengajari anak untuk memakai pakaiannya sendiri termasuk memakai sepatu 5. Melatih anak untuk memutuskan memilih pakaian sesuai dengan waktu dan acara yang akan dihadirinya 6. Melatih anak bertanggung jawab terhadap barang-barang miliknya 7. Mengajari anak merapikan rambutnya. 8. Mengajari anak membagi waktunya 9. Mengajari anak mengenal dan menghargai waktu 10. Mendidik anak belajar untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf jika melakukan kesalahan 11. Mendidik anak untuk tidur sendiri 12. Mendidik anak merapikan tempat tidurnya 13. Memberikan kesempatan anak untuk menentukan pilihannya 14. Mengajak anak untuk ikut menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. 15. Mendidik anak melalui media play group ataupun TK 16. Mendidik anak menabung 17. Mendampingi anak dalam menyelesaikan masalahnya di sekolah termasuk pekerjaan rumah 18. Melatih anak untuk menerima tanggung jawab di luar rumah 19. Memberikan penjelasan yang baik tentang hal yang baik dan buruk kepada anak 20. Memberikan pujian atas kemandirian anak dan tanggung jawabnya 21. Memberikan penjelasan kepada anak tentang peraturan, tata tertib dan norma sosial 22. Membina hubungan yang baik antara orang tua dan anak. Setidaknya 22 cara di atas merupakan sarana yang baik untuk membentuk jiwa mandiri anak jika hal tersebut dilakukan secara disiplin. Sebagai bahan evaluasi, 22 cara tersebut sudahkah dilakukan ataukah kadang-kadang atau bahkan jarang dilakukan. Semoga 22 tips diatas bisa membantu dalam mendidik anak yang mandiri.